Tren Kiriman Sabu dari Iran Meningkat

Kompas.com - 26/06/2010, 12:11 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Meningkatnya tren penggunaan narkotika sintesa, seperti sabu, di Indonesia tak terlepas dari tren peningkatan serupa di negara-negara berkembang di Asia. Namun, tren pasokan sabu ke Indonesia yang tinggi akhir-akhir ini justru berasal dari Iran.

"Dari Iran tinggi sejak September tahun lalu," ungkap Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Gories Mere di sela-sela puncak peringatan Hari Anti Narkoba Internasional 2010 di Lapangan Silang Monas, Sabtu (26/6/2010).

Tren pengiriman sabu dari Iran meningkat karena harga jual narkotika jenis sintesa ini sangat tinggi di Indonesia. Menurut Gories, 1 kilogram sabu di Iran hanya dijual setara Rp 100 juta, sementara di Indonesia bisa dijual hingga Rp 2 miliar.

"Jadi, sangat menguntungkan dijual di sini. Jadi, 2.000 persen kalau dijual di Indonesia. Bahkan tahun ini di sana dijual Rp 50 juta. Oleh karena itu, mereka dengan berbagai cara mengirimkan sabu ke sini," tuturnya.

Selain dari Iran, pasokan sabu juga berasal dari Malaysia, Thailand, dan Kamboja. Namun, Gories menegaskan, pihaknya bekerja sama dengan kepolisian akan menindak tegas produsen dan pengedar narkoba. Menurut dia, hukumnya juga sudah cukup jelas bahwa dalam UU No 35 Tahun 2009, ada ancaman hukuman mati bagi produsen dan pembuat narkotika sintesa 5 gram ke atas.

"Mudah-mudahan ini membuat efek gentar untuk para produsen sabu dan narkoba," tandasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau