JAKARTA, KOMPAS.com — Meningkatnya tren penggunaan narkotika sintesa, seperti sabu, di Indonesia tak terlepas dari tren peningkatan serupa di negara-negara berkembang di Asia. Namun, tren pasokan sabu ke Indonesia yang tinggi akhir-akhir ini justru berasal dari Iran.
"Dari Iran tinggi sejak September tahun lalu," ungkap Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Gories Mere di sela-sela puncak peringatan Hari Anti Narkoba Internasional 2010 di Lapangan Silang Monas, Sabtu (26/6/2010).
Tren pengiriman sabu dari Iran meningkat karena harga jual narkotika jenis sintesa ini sangat tinggi di Indonesia. Menurut Gories, 1 kilogram sabu di Iran hanya dijual setara Rp 100 juta, sementara di Indonesia bisa dijual hingga Rp 2 miliar.
"Jadi, sangat menguntungkan dijual di sini. Jadi, 2.000 persen kalau dijual di Indonesia. Bahkan tahun ini di sana dijual Rp 50 juta. Oleh karena itu, mereka dengan berbagai cara mengirimkan sabu ke sini," tuturnya.
Selain dari Iran, pasokan sabu juga berasal dari Malaysia, Thailand, dan Kamboja. Namun, Gories menegaskan, pihaknya bekerja sama dengan kepolisian akan menindak tegas produsen dan pengedar narkoba. Menurut dia, hukumnya juga sudah cukup jelas bahwa dalam UU No 35 Tahun 2009, ada ancaman hukuman mati bagi produsen dan pembuat narkotika sintesa 5 gram ke atas.
"Mudah-mudahan ini membuat efek gentar untuk para produsen sabu dan narkoba," tandasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang